Memasuki hari ketujuh, tim SAR memperpanjang waktu pencarian lima jurnalis yang hilang di sekitar Gunung Anak Krakatau

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Memasuki hari ketujuh, Senin (14/09), tim SAR gabungan memutuskan memperpanjang operasi pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang dinyatakan hilang kontak di Selat Sunda, selama tiga hari ke depan.
Kedelapan orang tersebut belum ditemukan hingga Senin.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad mengatakan, keputusan tersebut diambil setelah dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan operasi SAR.
"Hasil evaluasi hasil operasi SAR yang hari ke-7 pada hari ini, yang kita laksanakan hingga saat ini masih nihil. Dan hasil rapat koordinasi tadi yang disampaikan Pak Gubernur, kita akan lanjutkan pencarian selama tiga hari ke depan," kata Amrad dalam konferensi pers, di Posko SAR, Senin (14/09).
Sebelumnya, Gubernur Banten Andra Soni meminta operasi pencarian diperpanjang setelah masa operasi SAR selama tujuh hari berakhir.
Permintaan itu disampaikan kepada Basarnas serta seluruh unsur yang terlibat dalam pencarian.
Menurut Andra, keputusan mengusulkan perpanjangan juga didasarkan pada respons pemerintah terhadap permintaan keluarga korban. Pemerintah, kata dia, terus berkomunikasi dengan keluarga serta memberikan pendampingan selama proses pencarian berlangsung.
Sebelumnya, tim SAR gabungan masih mengoptimalkan pencarian melalui pengerahan berbagai unsur dan perluasan sektor pencarian.
"Tim SAR gabungan melaksanakan pencarian secara terkoordinasi dengan membagi wilayah operasi ke dalam beberapa sektor, serta melibatkan unsur laut, udara, dan darat," kata Al Amrad.
Dari delapan orang yang dinyatakan masih dalam proses pencarian, ada lima orang jurnalis.
Mereka adalah jurnalis Antara, M. Bagus Khoirunnas (28 tahun); jurnalis Merdeka Ari Basuki (52); jurnalis iNews Yudhis (43); Daus (42), jurnalis Anadolu; dan jurnalis lepas Donal Husni (51).
Adapun tiga orang lainnya adalah Warta (55), kapten kapal; Surakman (60), anak buah kapal; serta Heriyanto (49), pemandu perjalanan.
Delapan orang ini berangkat menggunakan kapal cepat (speedboat) dari Dermaga Pagedongan, Carita, Senin (07/09) sekitar pukul 14.00 WIB.
Komunikasi terakhir antara korban dan jurnalis Lampung terjadi sekitar pukul 14.42 WIB.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Pada Senin (14/09), tim SAR gabungan, dalam rilis tertulisnya, menyebutkan pencarian dimulai pukul 07.00 WIB dengan membagi wilayah operasi menjadi tujuh sektor.
Pencarian masing-masing sektor melibatkan sejumlah unsur laut, di antaranya KN SAR Tetuka, KN SAR Basudewa, KN SAR Antasena, KRI Leuser, hingga KRI Teluk, serta sejumlah kapal patroli lainnya.
Proses ini juga didukung unsur udara berupa helikopter HR 3604 dan dua unit drone thermal Basarnas.
Operasi pencarian dilaksanakan dengan memperhatikan kondisi cuaca di wilayah perairan Selat Sunda.
Tim SAR Gabungan mengatakan akan terus melaksanakan pencarian sesuai rencana operasi, perkembangan situasi di lapangan, dan hasil evaluasi bersama.
Bagaimana perkembangan pencarian sejauh ini?
Sebelumnya, tim SAR gabungan mengumumkan telah menemukan sebuah pelampung di sebelah barat perairan Cikoneng-Labuan, pada Kamis (10/09), di hari ketiga pencarian lima jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Meski begitu, hingga saat ini, belum dapat dipastikan apakah pelampung yang ditemukan tersebut merupakan milik salah satu jurnalis atau awak kapal.
"TNI AL dan tim gabungan masih melakukan pemeriksaan serta pencarian lebih lanjut untuk memastikan keterkaitan temuan tersebut dengan para jurnalis yang tengah dicari," bunyi keterangan tertulis dari Dinas Penerangan Angkatan Laut.

Sumber gambar, Dinas Penerangan Angkatan Laut
TNI AL bersama tim gabungan menyatakan akan terus menyisir perairan-perairan yang diduga menjadi lokasi hilang kontaknya para jurnalis.
Selain pelampung, tim SAR juga disebut menemukan satu botol tabung berwarna putih di lokasi yang sama.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Danlanal Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani Wawan mengatakan kedua benda tersebut belum bisa langsung dinyatakan sebagai barang milik korban karena benda serupa masih umum digunakan oleh nelayan.
"Jadi kita tidak bisa langsung mendeklarasikan bahwa itu barang-barang yang berkaitan dengan korban," katanya.
Seluruh benda yang ditemukan tim di lapangan akan terlebih dahulu dibawa dan dikumpulkan di posko untuk diidentifikasi.
Tim SAR juga akan mencocokkan pelampung tersebut dengan perlengkapan yang digunakan speedboat Arupadhatu 1 yang membawa rombongan pada Senin (07/09).
Sebanyak lima jurnalis dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau menggunakan sebuah kapal sejak Senin sore.
Hingga Kamis, kelima jurnalis bersama awak kapal masih belum ditemukan.

Sumber gambar, Dok.Keluarga
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Di hari ketiga, tim SAR juga mengerahkan helikopter untuk mendukung operasi pencarian.
Area pencarian mencakup perairan sekitar Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, kawasan Krakatau, hingga Pulau Rakata dan Pulau Panjang.
Para petugas menyisir perairan Pulau Sebesi hingga kawasan Krakatau menggunakan rigid inflatable boat, yaitu kapal cepat dengan lambung bawah yang keras dari fiberglass atau aluminium.
Kasubbag Umum Basarnas Lampung, Zulkarnain Siagian, mengatakan pencarian menjadi lebih sulit karena tidak ada sinyal marabahaya yang muncul dari kapal saat komunikasi dengan rombongan terputus.
"Pada saat terjadinya musibah itu tidak ada distress, istilahnya sinyal marabahaya. Itu yang membuat kami belum bisa mendeteksi di mana posisinya," ujar Zulkarnain.
Menurut dia, posisi terakhir kapal juga belum dapat dilacak melalui telepon seluler.
Karena itu, tim mengandalkan penyisiran langsung berdasarkan area yang telah ditentukan dalam operasi SAR.
"Untuk sinyal dari ponsel juga sama sekali belum ada untuk itu. Jadi, kami belum bisa mendeteksi posisi," katanya.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, mengatakan pencarian dilakukan secara maksimal dengan memperluas area penyisiran dan mengoptimalkan seluruh unsur serta sarana yang tersedia.
"Sampai saat ini hasil pencarian masih nihil. Kami tidak berhenti melakukan upaya pencarian. Setiap perkembangan di lapangan akan terus kami evaluasi untuk menentukan strategi berikutnya," kata Al Amrad.
Dalam proses pencarian tersebut, Gunung Anak Krakatau terpantau mengeluarkan material debu vulkanik cukup tebal.
Terkait kondisi tersebut, Al Amrad menegaskan bahwa keselamatan personel tetap menjadi prioritas selama operasi berlangsung.
"Saat terlihat adanya material debu vulkanik yang cukup tebal, kami tetap mempertimbangkan faktor keselamatan bagi seluruh personel. Pencarian akan terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi di lapangan," jelasnya.

Sumber gambar, Basarnas

Sumber gambar, ANTARA FOTO
Sebelumnya, Al Amrad mengatakan, kelima jurnalis tersebut menumpang kapal cepat Arupadhatu 1 dari Dermaga Pagedongan, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin (07/09) pukul 14.00 WIB.
Kapal tersebut berisi Warta (55) selaku kapten kapal, Surakman (60) selaku anak buah kapal, dan Heriyanto (49) sebagai pemandu.
Adapun kelima jurnalis mencakup M Bagus Khoirunnas, jurnalis kantor berita Antara Biro Banten; Ari Basuki, jurnalis Merdeka.com; Yudhis, jurnalis iNews; Daus, jurnalis kantor berita Anadolu; dan Donal Husni, jurnalis lepas.
Sebelum berangkat, Bagus sempat mengirimkan foto di dalam kapal bersama empat rekannya kepada istrinya.
Estimasi perjalanan dari dermaga ke Gunung Anak Krakatau selama dua jam.
Pada pukul 14.42 WIB, Bagus sempat berkomunikasi dengan jurnalis Antara Biro Lampung, Abay, yang sedang berada di Pulau Sebesi. Saat itu, Bagus mengirimkan informasi dengan mengabarkan lokasi terkini. Namun, pada pukul 15.04 WIB, Abay hilang kontak dengan Bagus.

Pada pukul 18.13 WIB, pemandu kapal Heriyanto sempat mengirimkan foto sedang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Setelah itu, tiada kabar dari kru kapal dan kelima jurnalis.
Pada Selasa (08/09) siang, pimpinan kantor berita Antara Biro Banten, Bayu Kuncahyo, melaporkan pewartanya hilang kontak kepada Basarnas.
Pencarian dimulai
Setelah mendapatkan laporan tersebut, tim SAR dari Pandeglang berangkat menuju lokasi terakhir kontak rombongan.
"Tim kemudian melakukan penyisiran menuju arah Krakatau dan sejumlah wilayah perairan yang diduga menjadi lokasi keberadaan speed boat," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, kepada Kompas.com.
Baca juga:
Polda Banten menyampaikan Basarnas menggerakkan sejumlah kapal dan personel untuk mencari lima jurnalis yang hilang.
"Dalam pencarian tersebut, sebanyak 23 personel terlibat, terdiri dari dua personel KP Sanjaya Mabes Polri, lima personel Ditpolairud Polda Banten, dan 16 personel Basarnas Banten.
"Pencarian juga didukung dengan penggunaan Kapal Basarnas KN Tetuka yang bergerak dari Dermaga Pelabuhan BBJ Bojonegara menuju wilayah perairan Carita dan selanjutnya ke lokasi pencarian," kata Kabid Humas Polda Banten, Kombes Maruli Hutapea, pada Selasa (08/09).
"Kapal masih melakukan pencarian terus di laut selama tiga hari ini," tambahnya sebagaimana dikutip Detik.com.

Sumber gambar, ANTARA FOTO
Hingga penyisiran berakhir pada Selasa (08/09) pukul 22.12 WIB, tim belum menemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun delapan orang yang masih dalam pencarian.
Menurut Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, tim SAR Gabungan akan memperluas area penyisiran, pada Rabu (09/09).
Kantor SAR Banten menyiapkan dua pesawat nirawak termal atau drone termal untuk mencari delapan orang yang hilang kontak.
Koordinator Operasi SAR, Rizky Dwianto, mengatakan pencarian melalui udara menggunakan helikopter atau pesawat belum memungkinkan karena abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih menyebar.
Artikel ini akan diperbarui secara berkala.

































