Hizbullah tolak gencatan senjata Israel-Lebanon – 'Sama saja kami menyerahkan diri'

A woman leans over a casket during the funeral of two parents and their four children in an Israeli strike, in Wardaniyeh, Lebanon (3 June 2026).

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Upacara pemakaman digelar di Wardaniyeh, Lebanon selatan, bagi enam anggota satu keluarga yang tewas dalam serangan udara Israel.
Telah diterbitkan
Waktu membaca: 11 menit

Kelompok Hizbullah menolak gencatan senjata Israel dengan Lebanon yang didukung oleh Amerika Serikat (AS).

Dalam pernyataan bernada keras, pemimpin kelompok yang didukung Iran itu, Naim Qassem, menyebut proses negosiasi sebagai sesuatu yang "sia-sia" dan "memalukan" bagi Lebanon.

Dia juga menegaskan bahwa kesepakatan tersebut ditolak secara mutlak oleh "sebagian besar masyarakat Lebanon".

Penolakan ini muncul setelah Israel dan Lebanon mengumumkan perpanjangan gencatan senjata yang rapuh, disertai pembentukan zona keamanan "percontohan" di wilayah Lebanon, di mana para anggota Hizbullah akan dilarang beroperasi.

Dalam pernyataan bersama yang dirilis Departemen Luar Negeri AS pada Rabu, ketiga negara menyatakan bahwa kesepakatan tersebut bergantung pada "penghentian total" serangan oleh Hizbullah.

Namun pada Kamis, pemimpin Hizbullah—yang tidak terlibat dalam perundingan—merespons dengan menyatakan bahwa "gencatan senjata" tersebut, yang ditafsirkan sebagai penghentian aksi penyerangan oleh Hizbullah serta penarikan pasukan dari garis depan selatan dengan Israel, sama saja dengan penyerahan diri dan akan memenuhi tujuan Israel.

Sentimen serupa juga terasa di kawasan pinggiran selatan Beirut—basis kuat Hizbullah yang dikenal sebagai Dahieh.

Seorang pemilik toko mengungkapkan keraguannya terhadap kesepakatan tersebut.

Sami, yang telah menjalankan usahanya di wilayah itu selama 25 tahun, mengatakan kepada BBC: "Gencatan senjata tidak bisa dilakukan sepihak; harus berlaku bagi semua pihak atau tidak ada gencatan senjata sama sekali."

Dia mengatakan bahwa serangan masih terjadi di Lebanon pada Kamis. Jika itu disebut sebagai gencatan senjata, lalu apa sebenarnya arti dari kondisi tersebut?

"Ini adalah penyerahan diri. Ini bukan perjanjian damai. Ini adalah kesepakatan penyerahan," ujarnya menegaskan.

Di seberang jalan, Hadi—yang keluarganya telah menjalankan toko selama 35 tahun—mengaku tidak melihat adanya harapan, dan menyebut kondisi ini bukan hal baru baginya.

"Generasi saya, generasi ayah saya, generasi kakek saya, mereka tidak melihat adanya harapan dari pihak-pihak ini—bukan semata-mata rakyat Israel, tapi bisa dikatakan pemerintah Israel," katanya.

Three men and one woman, all dressed in suits, sit at a long table in front of the US, Israeli and Lebanese flags.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, (Dari kiri ke kanan) Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter, Kepala Staf Departemen Luar Negeri Daniel Holler, Duta Besar AS untuk Lebanon Michel Issa, dan Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Hamadeh menghadiri pertemuan delegasi Israel dan Lebanon yang diselenggarakan AS di Washington DC, Rabu (03/06).
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Kesepakatan antara Israel dan Lebanon, yang dicapai setelah putaran keempat perundingan yang dimediasi AS di Washington, bergantung pada "evakuasi seluruh personel [Hizbullah]" dari wilayah antara perbatasan Israel dan Sungai Litani, sekitar 30 kilometer ke arah utara, yang saat ini diduduki oleh pasukan darat Israel.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, AS akan membantu mengarahkan pembentukan "zona percontohan, di mana Angkatan Bersenjata Lebanon akan mengambil alih kendali penuh atas wilayah tersebut dengan menyingkirkan seluruh aktor non-negara".

Namun, kesepakatan itu tidak menyertakan peta yang menunjukkan lokasi zona percontohan tersebut, maupun penjelasan tentang bagaimana penerapannya akan dilakukan di lapangan.

Kesepakatan tersebut menyusul gencatan senjata parsial yang diumumkan pada Senin, yang menurut pihak Lebanon, akan membuat Israel menahan diri dari aksi membombardir ibu kota Beirut, sebagai imbalan Hizbullah tidak melancarkan serangan ke Israel.

Perwakilan dari kedua negara dijadwalkan kembali bertemu pada 22 Juni untuk melanjutkan perundingan, "dengan tujuan mencapai kesepakatan yang komprehensif".

Warga yang membawa bendera dan poster Hizbullah berkumpul untuk menghadiri upacara pemakaman anggota Hizbullah yang tewas dalam serangan Israel di Lebanon selatan, di Nabatieh, Lebanon, 21 April 2026. (SUMBER FOTO: Elif Öztürk/Anadolu via Getty Images)

Sumber gambar, Elif Öztürk/Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Warga yang membawa bendera dan poster Hizbullah berkumpul untuk menghadiri upacara pemakaman anggota Hizbullah yang tewas dalam serangan Israel di Lebanon selatan, di Nabatieh, Lebanon, 21 April 2026.

Dengan duduk dalam perundingan yang jarang terjadi dengan Israel, pemerintah Lebanon kemungkinan berharap Hizbullah akan ikut terbawa arus dan sulit untuk menjadi pihak yang menolak perdamaian.

Sementara itu, AS—yang memediasi perundingan—diharapkan memperoleh dorongan bagi upayanya mencapai kesepakatan damai dengan Iran, yang menegaskan bahwa setiap perjanjian harus mencakup perdamaian di Lebanon.

Namun, meski mayoritas masyarakat Lebanon tidak mendukung Hizbullah, invasi Israel juga tidak mendapat sambutan luas.

Dan dengan menolak kesepakatan tersebut secara tegas, Hizbullah tampaknya melihat keuntungan politik dengan menampilkan diri sebagai satu-satunya kekuatan yang mampu melawan Israel dan terus bertempur.

Hizbullah, yang merupakan milisi Muslim Syiah sekaligus partai politik dan gerakan sosial, adalah kelompok paling kuat di Lebanon.

Dengan dukungan Iran, kelompok ini membangun kekuatan bersenjata yang bahkan lebih tangguh dibandingkan militer Lebanon, serta telah terlibat dalam sejumlah konflik dengan Israel.

Hizbullah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Israel dan sejumlah negara lain, termasuk Inggris dan Amerika Serikat.

Jet tempur Israel terbang di atas wilayah Marjayoun di Lebanon selatan pada 3 Juni 2026.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Jet tempur Israel terbang di atas wilayah Marjayoun di Lebanon selatan pada 3 Juni 2026.

Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan gencatan senjata tersebut "dapat diberlakukan dalam waktu 24 jam setelah mendapatkan persetujuan akhir" dari semua pihak terkait.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa militer Israel "untuk sementara waktu akan terus melanjutkan tembakan dan operasinya di lapangan" guna "membongkar infrastruktur teroris di wilayah tersebut".

Media Lebanon melaporkan adanya sejumlah serangan Israel di berbagai wilayah Lebanon selatan pada Kamis.

Kantor berita resmi Lebanon, National News Agency (NNA), melaporkan lima orang tewas dalam serangan udara di kota Sohmor di Lembah Bekaa pada Kamis.

Selain itu, satu orang lainnya dilaporkan tewas ketika sebuah sepeda motor menjadi sasaran serangan pesawat Israel di kota Maaroub, dekat Kota Tyre.

Kemudian, Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan sedikitnya delapan orang tewas dan 15 lainnya terluka pada Kamis dalam serangkaian serangan yang menargetkan kota Sohmor, Masaken, dan Arab Al-Jalil di Lebanon selatan.

Di sisi lain, Pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon (UNIFIL) menyatakan bahwa salah satu personelnya tewas akibat luka yang diderita setelah mortir menghantam posisinya di dekat Marjayoun pada Rabu malam.

Militer Israel menuduh Hizbullah sebagai pihak yang menembakkan mortir yang jatuh di lokasi pasukan UNIFIL tersebut hingga menewaskan personel penjaga perdamaian.

Hingga saat ini, Hizbullah belum memberikan tanggapan atas insiden tersebut.

Kementerian Pertahanan Serbia mengidentifikasi penjaga perdamaian tersebut sebagai Sersan Senior Milovan Jovanovic, salah satu dari sekitar 170 personel Serbia yang tergabung dalam total 7.500 pasukan PBB.

Secara terpisah, militer Israel pada Kamis juga mengumumkan bahwa salah satu tentaranya, Kapten Eitan Shmuel Lemberg, tewas di Lebanon selatan.

Seorang kerabat dari pria yang tewas bersama putra dan putrinya dalam serangan Israel awal pekan ini di Lebanon selatan, tampak berduka di samping peti jenazah saat proses pemakaman di desa Qlayaa, pada 3 Juni 2026.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Seorang kerabat dari pria yang tewas bersama putra dan putrinya dalam serangan Israel awal pekan ini di Lebanon selatan, tampak berduka di samping peti jenazah saat proses pemakaman di desa Qlayaa, pada 3 Juni 2026.

Militer Israel juga menyatakan telah mendeteksi dampak dari sejumlah "target udara mencurigakan" di wilayah Lebanon selatan, tempat pasukannya beroperasi pada Kamis sore. Tidak ada laporan korban luka dalam insiden tersebut, tambahnya.

Sebelumnya, Hizbullah mengatakan telah menargetkan pasukan dan kendaraan militer Israel di kota Qantara, Lebanon, serta di kawasan Kastel Beaufort, dengan menggunakan drone dan roket pada Kamis.

Lebanon terseret ke dalam konflik antara AS, Israel, dan Iran pada 2 Maret, ketika Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai balasan atas serangan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran.

Israel kemudian merespons dengan kampanye serangan udara di seluruh Lebanon serta invasi darat di wilayah selatan.

Gencatan senjata yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon pada 16 April 2026 gagal menghentikan pertempuran.

Pekan lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan militer Israel untuk meningkatkan serangan terhadap Hizbullah dan memperluas operasi lebih jauh ke wilayah Lebanon, sebagai respons atas serangan drone dan roket terhadap komunitas di Israel utara.

Kendaraan berat militer Israel membersihkan jalan dengan menyingkirkan tumpukan tanah dan puing-puing, setelah tentara Lebanon mengumumkan telah memasuki wilayah tersebut, menyusul penarikan pasukan Israel yang sebelumnya melakukan serangan di kota Dibbin, Nabatieh, Lebanon, 4 Juni 2026. (SUMBER FOTO: Ramiz Dallah/Anadolu via Getty Images)

Sumber gambar, Ramiz Dallah/Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Kendaraan berat militer Israel membersihkan jalan dengan menyingkirkan tumpukan tanah dan puing-puing, setelah tentara Lebanon mengumumkan telah memasuki wilayah tersebut, menyusul penarikan pasukan Israel yang sebelumnya melakukan serangan di kota Dibbin, Nabatieh, Lebanon, 4 Juni 2026.

Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan sedikitnya 3.526 orang telah tewas sejak konflik dimulai, tanpa merinci jumlah korban antara kombatan dan warga sipil.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menyebut lebih dari satu juta orang telah terdaftar sebagai pengungsi di Lebanon, di mana perintah evakuasi dari Israel mencakup lebih dari seperdelapan wilayah negara tersebut.

Sementara itu, Israel mengatakan 26 tentaranya dan empat warga sipil Israel telah tewas di kedua sisi perbatasan selama konflik berlangsung.

Apa isi kesepakatan Israel-Lebanon yang dimediasi AS?

Sebelumnya, Israel dan Lebanon sepakat untuk memperbarui gencatan senjata yang rapuh serta membentuk sejumlah zona keamanan "percontohan" di dalam wilayah Lebanon, di mana para anggota Hizbullah akan dilarang beroperasi, demikian diumumkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS).

Kesepakatan ini "bergantung pada penghentian total" serangan dari kelompok bersenjata Hizbullah yang didukung Iran, serta sejumlah syarat lainnya.

Langkah ini diambil setelah serangan Israel menewaskan sedikitnya sembilan orang di Lebanon selatan pada Rabu (03/06), dan Hizbullah menembakkan roket ke wilayah utara Israel, menguji gencatan senjata yang sudah rapuh dan awalnya disepakati pada April lalu.

Kedua negara "menolak segala upaya, baik oleh negara maupun aktor non-negara, untuk menyandera masa depan Lebanon," demikian pernyataan tersebut.

View from afar of large plumes of smoke rising over buildings struck by Israel in the Nabatieh area, southern Lebanon.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Asap membumbung dari wilayah Nabatieh di Lebanon selatan setelah serangan udara Israel pada Rabu.

Kesepakatan yang dicapai setelah putaran keempat perundingan yang dimediasi AS di Washington ini bergantung pada "evakuasi seluruh personel [Hizbullah]" dari wilayah di Lebanon selatan yang saat ini berada di bawah kendali Israel, yakni dari Sungai Litani hingga perbatasan.

Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa AS akan membantu mengarahkan pembentukan "zona percontohan di mana Angkatan Bersenjata Lebanon akan memegang kendali penuh atas wilayah tersebut, tanpa kehadiran aktor non-negara".

Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai bagaimana zona-zona ini akan beroperasi.

Pengumuman ini menyusul gencatan senjata parsial yang disepakati pada Senin (01/06), yang menurut pemerintah Lebanon akan membuat Israel menahan diri dari membombardir Beirut, sebagai imbalan Hizbullah tidak menyerang Israel.

Kedua negara dijadwalkan kembali bertemu pada 22 Juni untuk melanjutkan perundingan "dengan tujuan mencapai kesepakatan yang komprehensif".

Warga berduka saat pemakaman seorang tentara Israelyang tewas di Lebanon selatan, digelar di pekuburan Segula, Petah Tikva, Israel, 2 Juni 2026.

Sumber gambar, Jack GUEZ / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Warga berduka saat pemakaman seorang tentara Israelyang tewas di Lebanon selatan, digelar di pekuburan Segula, Petah Tikva, Israel, 2 Juni 2026.

Gencatan senjata yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon pada 16 April gagal menghentikan pertempuran.

Pekan lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan militer Israel untuk meningkatkan serangan terhadap Hizbullah dan bergerak lebih jauh ke dalam wilayah Lebanon sebagai respons atas serangan drone dan roket terhadap komunitas di Israel utara.

Sedikitnya 3.516 orang telah tewas di Lebanon sejak perang dimulai, menurut kementerian kesehatan negara itu. Data tersebut tidak membedakan antara kombatan dan warga sipil.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan lebih dari satu juta orang juga telah terdaftar sebagai pengungsi di Lebanon, di mana perintah evakuasi dari Israel mencakup lebih dari seperdelapan wilayah negara tersebut.

Israel menyatakan sebanyak 26 tentaranya dan empat warga sipil Israel telah tewas di kedua sisi perbatasan selama perang berlangsung.

Baca juga:

Media Lebanon melaporkan serangan Israel terjadi di berbagai wilayah selatan negara itu pada Rabu.

Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut empat warga Suriah dan dua warga Palestina tewas dalam serangan di kawasan al-Housh, yang terletak tepat di selatan kota pesisir Tyre.

Kementerian tersebut juga mengatakan dua petugas medis tewas dan seorang lainnya mengalami luka serius setelah pasukan Israel "secara langsung menargetkan sebuah ambulans" di wilayah Chehour, sekitar 14 kilometer di sebelah timur.

Fotoyang diambil dari posisi di Israel utara, di perbatasan dengan Lebanon selatan, memperlihatkan helikopter AH-64 Apache Angkatan Udara Israel terbang pada 4 Juni 2026. (SUMBER FOTO: Jalaa Marey/AFP via Getty Images)

Sumber gambar, Jalaa Marey/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Fotoyang diambil dari posisi di Israel utara, di perbatasan dengan Lebanon selatan, memperlihatkan helikopter AH-64 Apache Angkatan Udara Israel terbang pada 4 Juni 2026.

Ambulans tersebut milik Asosiasi Pramuka Risala, yang berafiliasi dengan gerakan Amal, sekutu Hizbullah.

Kementerian Lebanon menuduh militer Israel "menunjukkan pengabaian terhadap hukum humaniter internasional", yang secara khusus melindungi tenaga medis.

Setidaknya 128 petugas medis dan tenaga kesehatan telah tewas dalam serangan Israel terhadap ambulans dan fasilitas kesehatan selama tiga bulan terakhir, menurut kementerian tersebut.

Tidak ada komentar langsung dari militer Israel. Sebelumnya, pihak Israel mengklaim ambulans tersebut digunakan untuk kepentingan militer, tanpa memberikan bukti.

Sementara itu, militer Lebanon mengatakan salah satu tentaranya tewas dalam serangan udara Israel di jalan antara Nabatieh dan Kfar Tebnit, sekitar 27 kilometer timur laut Tyre.

Kantor berita resmi Lebanon, National News Agency (NNA), melaporkan sepeda motor korban menjadi sasaran serangan drone.

Militer Lebanon juga menyebut dua tentaranya lainnya terluka dalam serangan Israel terpisah terhadap kendaraan mereka di jalan antara Deir Zahrani dan Nabatieh.

Militer mengecam apa yang mereka sebut sebagai "pola serangan yang disengaja yang menargetkan personel, kendaraan, dan posisi militer" oleh pasukan Israel.

Sebuah foto memperlihatkan dampak serangan udara Israel di wilayah Burj al-Chamali, tidak jauh dari kota Tyre di wilayah selatan, 2 Juni 2026.

Sumber gambar, Kawnat Haju/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Sebuah foto memperlihatkan dampak serangan udara Israel di wilayah Burj al-Chamali, tidak jauh dari kota Tyre di wilayah selatan, 2 Juni 2026.

Di kawasan tepi laut Beirut, ada ribuan pengungsi yang tinggal di tenda-tenda dengan akses terbatas terhadap makanan, air bersih, dan fasilitas sanitasi,

Mariam Hessa mengatakan dia menginginkan gencatan senjata yang mencakup seluruh wilayah negara.

"Saya rasa ini tidak adil, karena wilayah selatan selalu dibombardir, rumah-rumah rusak, hancur, dan orang-orang meninggal," kata mahasiswa berusia 23 tahun itu kepada BBC.

"Saya ingin gencatan senjata berlaku untuk seluruh Lebanon, bukan hanya untuk suatu wilayah seperti Dahieh atau bahkan hanya selatan. Tidak, ini harus untuk seluruh Lebanon. Kami membutuhkan ini."

Gencatan senjata parsial tersebut diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, yang pada Rabu lalu mengonfirmasi laporan bahwa kesepakatan itu dimediasi setelah dia menyebut Netanyahu "gila" dalam percakapan telepon bernada keras.

Ucapan itu dipicu oleh perintah perdana menteri Israel agar membombardir ibu kota Lebanon.

"Saya agak terganggu dengan aksinya yang terus-menerus menyerang Lebanon," kata Trump kepada podcast Pod Force One milik New York Post.

Baca juga:

"Pada suatu titik, saya berkata: 'Bibi [Netanyahu], kita harus menghentikan ini.'"

Netanyahu kemudian sepakat menahan diri untuk menyerang Beirut, namun dia menegaskan bahwa militer Israel tetap akan melanjutkan operasi di Lebanon selatan.

Ketika ditanya mengenai percakapan tersebut dalam wawancara dengan CNBC, Netanyahu mengatakan: "Kadang-kadang, seperti keluarga, kami memiliki perbedaan taktis. Kami selalu menemukan cara untuk menyelesaikannya."

Trump disebut khawatir bahwa eskalasi lebih lanjut di Lebanon dapat menggagalkan kesepakatan yang lebih luas untuk mengakhiri perang antara AS, Israel, dan Iran.

Iran telah memperingatkan AS bahwa setiap gencatan senjata di kawasan harus mencakup Lebanon.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Rabu memperingatkan bahwa jika agresi Israel terhadap Beirut terus berlanjut, angkatan bersenjata Iran "sepenuhnya siap" untuk melanjutkan perang, demikian dilaporkan kantor berita Tasnim.

Namun, pada Rabu malam, Trump mengatakan bahwa dia ingin memisahkan pembicaraan AS-Iran dari pembahasan mengenai perang antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.

"Saya ingin memisahkannya, saya ingin menjadikannya pembahasan terpisah, karena ini memang... berbeda," ujar presiden AS itu kepada wartawan.