AS kembali serang target di Iran untuk kedua kalinya dalam tiga hari, Teheran mengecam – 'Pelanggaran serius atas gencatan senjata'

Sumber gambar, US Navy via Getty Images
- Penulis, Sarah Smith
- Peranan, North America editor, Washington DC
- Penulis, Nardine Saad
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 8 menit
Militer Amerika Serikat (AS) telah melancarkan serangan terbaru ke Iran dengan menargetkan sebuah lokasi militer di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis.
Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan pasukannya juga menembak jatuh empat drone milik Iran yang "menimbulkan ancaman di sekitar Selat Hormuz".
Centcom menyebut lokasi di Bandar Abbas diserang saat bersiap meluncurkan drone kelima.
Media-media Iran melaporkan bahwa ledakan terdengar di wilayah timur kota tersebut.
Serangan ini terjadi di tengah gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran, serta perundingan panjang untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan—konflik yang menghambat lalu lintas di Selat Hormuz dan mendorong lonjakan harga energi global.
Tindakan militer AS ini merupakan kali kedua dalam tiga hari AS menyerang target di Iran.
Mereka mengklaim bahwa tindakan tersebut dilakukan sebagai bentuk pembelaan diri.
Eskalasi terbaru ini berpotensi mengancam keberlangsungan gencatan senjata.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Centcom menggambarkan tindakannya sebagai "terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk mempertahankan gencatan senjata".
Awal pekan ini, Centcom juga mengonfirmasi serangan "membela diri" sebelumnya di Iran selatan pada Senin, yang menargetkan lokasi rudal Iran serta kapal-kapal yang diduga berupaya menanam ranjau di selat tersebut—di mana ribuan kapal tanker komersial tertahan akibat konflik.
Centcom menyatakan serangan tersebut dirancang "untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran".
Iran mengecam serangan tersebut sebagai "pelanggaran serius terhadap gencatan senjata" dan berjanji bahwa pemerintah Iran "tidak akan membiarkan satu pun tindakan permusuhan tanpa balasan."
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga mengatakan pada Selasa bahwa pihaknya telah menembak jatuh sebuah drone AS serta melepaskan tembakan ke sebuah jet tempur dan satu drone lain yang memasuki wilayah udara Iran, meskipun tidak merinci kapan kejadian tersebut berlangsung.

Sumber gambar, Majid Saeedi/Getty Images
Dalam rapat kabinet pada Rabu, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran "bernegosiasi dalam posisi terdesak", dan menegaskan bahwa strategi perangnya tidak akan dipengaruhi oleh pemilu paruh waktu AS pada November.
"Mungkin kita harus kembali dan menyelesaikannya, mungkin juga tidak," ujarnya.
Dalam pertemuan yang sama, Trump juga mendesak negara-negara Teluk untuk bergabung dalam Abraham Accords guna menormalisasi hubungan dengan Israel.
Israel melancarkan perang terhadap Iran bersama AS pada 28 Februari 2026, dan pada saat yang sama juga terlibat konflik dengan kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.
Presiden Trump telah mengancam akan melanjutkan kampanye pengeboman berskala besar jika Iran tidak menyetujui persyaratan yang diajukan.
Presiden Donald Trump menyampaikan nada optimistis pada akhir pekan lalu dengan mengatakan bahwa kesepakatan damai dengan Iran "sebagian besar telah dinegosiasikan". Namun, dalam rapat kabinet pada Rabu, ia menyatakan bahwa AS "belum puas".
Dia mengatakan Teheran "sangat berniat" mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik, tetapi menambahkan bahwa "sejauh ini mereka belum sampai ke tahap itu", seraya kembali menegaskan kesiapan Washington untuk melanjutkan serangan jika kesepakatan tidak tercapai.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah televisi pemerintah Iran melaporkan apa yang disebut sebagai rincian rancangan kesepakatan, yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta penarikan pasukan AS dari kawasan.
Gedung Putih menyebut dokumen tersebut sebagai "rekayasa sepenuhnya".
Kedua pihak sempat memberi sinyal adanya kemajuan menuju kesepakatan pada akhir pekan lalu, yang memicu spekulasi bahwa pengumuman sudah dekat.

Namun, Teheran segera memperingatkan bahwa kesepakatan "tidak dalam waktu dekat", sementara Trump mengatakan dia telah menginstruksikan para perundingnya "agar tidak terburu-buru".
Berbicara kepada wartawan dalam rapat kabinet pada Rabu, presiden AS itu mengatakan: "Mereka hanya ingin membuat kesepakatan—saya rasa mereka tidak punya pilihan."
Trump juga mengatakan: "Iran sangat berniat, mereka benar-benar ingin mencapai kesepakatan.
Sejauh ini mereka belum sampai ke tahap itu dan kami belum puas, tetapi kami akan mencapainya. Jika tidak, kami mungkin harus menuntaskannya."
Teheran kecam serangan baru AS di Iran selatan
Sebelumnya, Iran menuding Amerika Serikat (AS) telah melakukan "pelanggaran serius" terhadap gencatan senjata melalui serangan udara terbaru yang dilancarkan ke negara tersebut.
Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan sejumlah lokasi rudal Iran serta kapal-kapal yang diduga berupaya menempatkan ranjau telah menjadi sasaran dalam apa yang disebut sebagai "serangan untuk membela diri" di Iran selatan pada Senin.
Kementerian luar negeri Iran menyatakan pihaknya menilai AS bertanggung jawab atas konsekuensi dari "tindakan agresif dan tidak dapat dibenarkan" di wilayah Hormozgan, yang memiliki garis pantai di Selat Hormuz—jalur perairan penting yang sebelumnya diblokade Iran sehingga memicu lonjakan harga energi dunia.
Belum jelas dampak serangan tersebut terhadap perundingan yang bertujuan mengakhiri konflik.
"Tanpa ragu, Republik Islam Iran tidak akan membiarkan tindakan jahat apa pun tanpa balasan dan tidak akan ragu untuk membela bangsa Iran," demikian pernyataan resmi Iran.
AS dan Israel memulai perang dengan Iran pada 28 Februari 2026 melalui gelombang serangan mematikan, termasuk serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi negara itu.
Setelah berminggu-minggu pertempuran, gencatan senjata disepakati pada 8 April 2026 dan sebagian besar dipatuhi sejak saat itu, meskipun sempat terjadi sekali bentrokan pada awal Mei.
Dalam pernyataannya, Centcom mengatakan pasukan AS "melaksanakan serangan untuk membela diri di Iran selatan hari ini guna melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran."

Sumber gambar, Getty Images
Pihak militer AS tidak memberikan rincian mengenai lokasi serangan tersebut, namun seorang pejabat yang dikutip New York Times mengatakan targetnya berada di dekat Bandar Abbas—sebuah kota pelabuhan di selatan sekaligus lokasi pangkalan angkatan laut Iran yang terletak di Selat Hormuz.
Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa pejabat setempat di Bandar Abbas tengah melakukan penyelidikan setelah terdengar ledakan.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kemudian mengatakan pihaknya telah menembak jatuh sebuah drone AS dan melepaskan tembakan ke sebuah jet tempur yang memasuki wilayah udara Iran, meskipun tidak merinci kapan peristiwa itu terjadi.
Hal ini terjadi di tengah upaya perundingan untuk memperpanjang gencatan senjata yang sedang berlangsung, dengan tujuan akhir mengakhiri konflik.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kesepakatan dari perundingan tersebut masih memungkinkan, namun akan "memakan waktu beberapa hari".
Pada akhir pekan, Presiden Donald Trump sempat menyatakan kesepakatan sudah dekat, sebelum kemudian mengatakan ia telah menginstruksikan para perunding "agar tidak terburu-buru" mencapai kesepakatan.
Menurut media AS, kesepakatan yang sedang dibahas bukanlah penyelesaian akhir, melainkan sebuah nota kesepahaman yang dilaporkan mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta rencana perundingan lanjutan terkait program nuklir Iran.
Mengapa AS lakukan serangan baru ke Iran selatan?
Serangan baru militer AS di Iran selatan itu disebut menargetkan lokasi rudal Iran serta kapal-kapal yang diduga berupaya menempatkan ranjau.
Komando Pusat AS dalam sebuah pernyataan menyebut serangan tersebut dilakukan sebagai bentuk "pembelaan diri", dan dirancang "untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran".

Sumber gambar, Getty
Juru bicara Komando Pusat, Kapten Tim Hawkins, mengatakan militer AS "terus mempertahankan pasukan kami dengan tetap menahan diri di tengah gencatan senjata yang tengah berlangsung".
Serangan ini terjadi ketika Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqai, mengatakan bahwa telah ada sejumlah kemajuan dalam perundingan dengan AS, tapi kesepakatan untuk mengakhiri konflik tersebut "belum dalam waktu dekat".
Di mana lokasi serangan AS?
Kapten Hawkins mengatakan serangan tersebut menargetkan wilayah di dekat Bandar Abbas, sebuah kota pelabuhan di selatan sekaligus pangkalan angkatan laut Iran yang terletak di Selat Hormuz, sebagaimana dilaporkan New York Times.
Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa pejabat setempat di Bandar Abbas sedang melakukan penyelidikan setelah terdengar ledakan.
Iran hingga kini belum memberikan tanggapan atas serangan terbaru AS. Belum jelas pula dampaknya terhadap potensi kesepakatan damai antara kedua negara.
Menanggapi serangan tersebut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kesepakatan masih mungkin dicapai, seraya menyinggung pembicaraan pada Selasa antara juru runding utama Iran dan menteri luar negerinya dengan perdana menteri Qatar.

Sumber gambar, Julia Demaree Nikhinson / POOL / AFP via Getty Images
"Kita akan lihat apakah kita bisa mencapai kemajuan. Saya kira saat ini masih banyak proses bolak-balik terkait bahasa spesifik dalam dokumen awal, jadi ini akan memakan waktu beberapa hari," kata Rubio kepada wartawan dalam kunjungan resmi ke India.
Dia menambahkan bahwa Presiden Donald Trump telah "menyatakan keinginannya untuk mewujudkan hal itu".
"Dia akan menghasilkan kesepakatan yang baik atau tidak sama sekali," ujar Rubio.
Sejauh mana hasil perundingan AS-Iran?
Pada akhir pekan lalu, Trump sempat menyatakan kedua pihak sudah mendekati kesepakatan, namun kemudian mengatakan dia telah menginstruksikan para perunding "agar tidak terburu-buru", sementara Rubio sebelumnya menyebut kesepakatan berpotensi dicapai pada Senin.
Namun Baqai menanggapi, "Benar bahwa kami telah mencapai kesimpulan atas sebagian besar isu yang dibahas... tetapi untuk mengatakan bahwa ini berarti penandatanganan kesepakatan sudah dekat—tidak seorang pun bisa membuat klaim seperti itu."
Baca juga:
Nota kesepahaman yang tengah dibahas dilaporkan mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta rencana perundingan lanjutan terkait program nuklir Iran.
Mengapa perundingan alot?
CBS News, mitra BBC di AS, melaporkan bahwa intelijen AS meyakini Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei—yang terluka dalam serangan Israel pada hari pertama perang yang juga menewaskan ayah sekaligus pendahulunya—kini bersembunyi di lokasi yang tidak diungkapkan.
Kondisi ini menyulitkan komunikasi dengan para utusannya sehingga memperlambat jalannya perundingan dengan AS.
Menurut media AS, pembicaraan tersebut tidak akan segera menghasilkan kesepakatan final.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Isu-isu yang masih menjadi perdebatan kemungkinan akan dinegosiasikan kemudian, termasuk rincian pelonggaran sanksi terhadap Iran, pencairan dana Iran yang dibekukan, serta tuntutan AS agar Iran membatasi ambisi nuklirnya.
Pada awal perang, Iran diperkirakan memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga tingkat kemurnian 60%—hanya selangkah lagi dari tingkat 90% yang diperlukan untuk keperluan senjata nuklir, yang secara teoritis memungkinkan pembuatan bom atom.
Pada Senin malam, Trump mengatakan uranium yang telah diperkaya itu akan "segera" diserahkan kepada AS, atau "lebih disukai, dengan kerja sama dan koordinasi dengan Republik Islam Iran, dimusnahkan di lokasi".
Sejak kapan gencatan senjata AS-Iran?
Pasukan AS dan Iran telah mematuhi gencatan senjata sejak 8 April.
Iran tetap mengendalikan jalur pelayaran di Teluk melalui Selat Hormuz, sementara Angkatan Laut AS berupaya memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.
AS dan Israel melancarkan serangan berskala luas terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu konflik di seluruh Timur Tengah.
Iran membalas dengan menyerang Israel serta negara-negara sekutu AS di Teluk, dan secara efektif menutup Selat Hormuz.
Langkah tersebut menyebabkan harga minyak dunia melonjak tajam.
































