'Saya berusaha meraih tubuh adik saya' – Banjir bandang Solok tewaskan satu orang, puluhan rumah terdampak

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Fitra Yogi
- Penulis, Halbert Caniago
- Peranan, Jurnalis di Sumatra Barat
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 7 menit
Banjir bandang yang menerjang Kabupaten Solok, Sumatra Barat, pada Senin (21/09) malam menewaskan sedikitnya satu orang, lima luka-luka, dan merusak puluhan rumah serta melumpuhkan sebagian aktivitas pemerintahan daerah.
Juru Bicara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat, Ilham Wahab, menyebut per hari Rabu (23/09), 36 orang warga masih mengungsi.
"Mereka berada di rumah dinas Wakil Bupati Solok," kata Ilham saat diwawancarai Rabu.
Sementara itu, satu orang masih dinyatakan hilang.
"Fokus penanganan kami hari ini adalah melakukan pembersihan material di rumah warga dan perkantoran yang terdampak, serta melakukan pencarian satu orang korban yang masih dinyatakan hilang," katanya.
Data BPBD menyebut ada 40 rumah warga yang mengalami kerusakan akibat banjir bandang tersebut. Sebanyak 11 kantor pemerintahan juga terdampak.

Sumber gambar, Halbert Caniago
Sebelumnya, pada Selasa (23/09), material kayu dan bebatuan berukuran besar tampak menumpuk di depan rumah-rumah warga serta di sepanjang aliran sungai yang dilalui banjir bandang. Sejumlah batu berukuran besar yang terbawa arus juga terlihat berserakan di kawasan terdampak.
Masa tanggap darurat disebut akan berlangsung selama 14 hari ke depan.
Mencari adik di tengah banjir
Pagi itu, Selasa (22/09), Affan Alqadri (24) masih mencari-cari adiknya, Daffi Arahman. Tubuhnya luka-luka akibat terkena batu yang terbawa arus banjir bandang.
Ia masih berharap sang adik dapat ditemukan oleh tim gabungan yang turun melakukan pencarian.
"Tadi malam itu saya sedang di warung bersama Daffi. Rencana kami mau pulang ke sini dan berencana menutup warung," kenangnya, pada jurnalis Halbert Caniago yang melaporkan untuk BBC Indonesia.
Tapi, ia masih menunggu hujan reda dan berencana pulang setelah makan malam. Hal tak terduga terjadi. Air bah datang menghantam daerah tersebut, saat ia sedang menyiapkan makanan yang dibeli adiknya.
"Saat itu saya sedang di dalam dan Daffi di luar. Tapi dia lari ke dalam untuk memberitahu saya bahwa ada air besar yang datang dari sungai," lanjutnya.

Sumber gambar, BBC Indonesia/Halbert Caniago
Kakak beradik itu sudah tidak bisa lagi kabur. Air bah sudah menghantam warung yang berada di pinggir jalan Padang-Solok itu.
"Saat air mulai naik, salah satu etalase diwarung menghantam kami berdua. Saya memeluk dia dan menahan etalase itu hingga kaki saya terjepit," katanya.
Affan berusaha menendang etalase itu agar bisa melarikan diri. Hingga akhirnya mereka berdua berhasil membebaskan diri dan mencoba menyelamatkan diri dari situasi itu.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Sayangnya, banjir bandang yang datang itu menghantam dan menghanyutkan sebuah barber shop yang ada di sebelah warung Affan, sehingga keduanya terpental.
Affan berupaya meraih salah satu tiang bangunan agar tidak terseret air bah. Tapi sang adik berteriak meminta bantuan, sehingga dia memutuskan untuk melepaskan genggamannya dari tiang.
Affan berusaha meraih tubuh sang adik yang lebih besar darinya. Sekali lagi, mereka terpental ke luar bangunan itu hingga Affan tidak bisa lagi memeluk tubuh sang adik.
Kepala Affan terhantam batu dan ia terseret air bah malam itu.
"Saat tenggelam, saya memutuskan membuka jaket saya. Karena saya berpikir itu yang membuat saya tenggelam," katanya.
Kini, Affan masih berusaha melihat keberadaan sang adik yang sebelumnya terpisah darinya. Ia melihat air bah yang sangat deras membawa bebatuan itu untuk memastikan keberadaan Daffi.
Karena keadaan malam yang gelap, Affan memutuskan untuk ke masjid di dekat persawahan untuk beristirahat sejenak.
Saat sampai di masjid itu, Affan meminta bantuan kepada warga yang mengungsi ke masjid tersebut untuk mencari sang adik yang hilang.
Harapan Affan akhirnya terwujud saat tim gabungan menemukan salah satu dari 3 orang yang dilaporkan hilang, sekitar pukul 13.33 WIB. Jasad Daffi ditemukan. Hanya saja, Daffi ditemukan dalam keadaan tak bernyawa.
"Salah satu korban, atas nama Daffi, telah ditemukan oleh tim pada jarak kurang lebih 11 kilometer dari lokasi kejadian dan ditemukan dalam keadaan meninggal dunia," kata Kepala Kantor SAR Padang, Abdul Malik saat dihubungi.
'Kami sekeluarga belum makan sejak tadi malam'
Salah satu korban selamat lain, Gasani Zaida (18), mengatakan bahwa saat banjir bandang menerjang daerah itu, ia sedang berkumpul dengan keluarganya.
"Kami sedang di rumah aja. Lalu dapat telpon bahwa air di atas sudah besar dan kami langsung pergi ke lokasi yang kami rasa aman," katanya.
Tetapi, di lokasi pengungsian awal itu, air masih menggenangi jalan dan rumah warga. Sani dan keluarganya terpaksa harus pergi ke tempat yang lebih tinggi.
"Kami pergi ke rumah warga lain yang lebih aman hingga air benar-benar sudah surut sekitar pukul 23.00 WIB lalu berkumpul di masjid," katanya.

Sumber gambar, BBC Indonesia/Halbert Caniago
Sejak malam kejadian hingga Selasa pagi, Sani mengaku belum mendapatkan bantuan apapun. Bahkan ia harus menahan lapar karena rumahnya telah dipenuhi material yang terbawa air.
"Sampai saat ini belum ada bantuan. Kami sekeluarga belum makan sejak tadi malam itu. Mudah-mudahan nanti ada dikasih makanan," katanya.
Melihat rumah yang dibangun orang tuanya dipenuhi material berupa kayu dan batu, Sani mengaku sedih dan tidak sanggup melakukan pembersihan secara mandiri.
"Mudah-mudahan nanti ada yang bantu untuk membersihkan. Karena ada kayu yang gak bisa kami angkat juga," lanjutnya.
Kantor pemerintahan lumpuh
Menurut Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, akibat kerusakan belasan kantor dinas Pemerintahan Kabupaten Solok, roda pemerintahan di Kabupaten Solok belum bisa berjalan maksimal dan terpaksa harus berjalan sesuai keadaan darurat.
Mahyeldi mengatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten Solok dalam pelaksanaan masa tanggap darurat yang dilakukan selama 14 hari ke depan.
"Selama tanggap darurat ini tentunya yang harus kita kedepankan kebutuhan masyarakat dulu. Kalau kerusakan lainnya itu nanti bisa menyusul untuk melakukan perbaikan," katanya.
Dia juga menyebut warga yang terdampak kebanyakan berada di rumah saudaranya masing-masing, dan belum ada pengungsian khusus bagi korban terdampak.
"Kami juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri untuk perbaikan perkantoran yang rusak tersebut yang tentunya akan menyusul," katanya.
Meski telah dihantam bencana, Mahyeldi belum memastikan soal kelaikan lokasi itu untuk tetap menjadi komplek perkantoran pemerintah.

Sumber gambar, BBC Indonesia/Halbert Caniago
"Tentunya untuk itu kita membutuhkan pengkajian terlebih dahulu. Nanti akan ada tim yang mengkaji soal itu. Kalau hasilnya tidak laik, maka akan dipindahkan," katanya.
Jalur Padang-Solok juga sempat lumpuh karena material banjir bandang yang menutupi sebagian besar jalan tersebut yang membuatnya harus buka-tutup.
"Untuk saat ini sudah bisa dilewati, tapi memang harus buka-tutup. Karena seluruh tim saat ini juga masih melakukan evakuasi material yang terbawa banjir bandang tadi malam," lanjutnya.
Walhi nilai pemerintah lalai
Walhi Sumatera Barat mencatat banjir bandang cukup sering terjadi di daerah Kabupaten Solok dalam beberapa tahun belakangan.
"Untuk bencana banjir bandang juga terjadi di Kabupaten Solok pada November 2025 lalu. Tapi lokasinya berbeda dengan bencana yang terjadi di Kayu Aro saat ini," kata Direktur Walhi Sumbar, Tommy Adam.
Menurutnya, pada November 2025 lalu itu banjir bandang menerjang daerah Koto Sani, Kecamatan X Koto Singkarak yang membuat 448 orang warga terdampak.
"Karena memang dalam kajiannya menunjukkan bahwa banyak wilayah di Sumatera Barat yang rawan terjadinya bencana," lanjutnya.
Sementara, untuk bencana banjir bandang yang menimpa daerah Kayu Aro tersebut dinilai merupakan kelalaian pemerintah yang tidak melakukan mitigasi dan antisipasi terhadap bencana yang mengancam daerah tersebut.
"Pada tahun 2007, PVMBG [Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi] sudah mengeluarkan peringatan soal lokasi itu yang merupakan aliran lahar saat meletusnya Gunung Marapi," katanya.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Solok dan Pemprov Sumbar seharusnya melakukan mitigasi dan mengantisipasi terjadinya bencana.
"Harusnya juga tidak ada bangunan di aliran sungai itu. Karena memang sudah ada peringatan sebelumnya soal kerawanan lokasi itu," katanya.
Bahkan, menurut Tommy, PVMBG telah mengeluarkan kajian soal lokasi rawan bencana gunung api yang termasuk lokasi bencana saat ini.
"Selain itu, perubahan tata ruang di bagian hulu sungai itu juga menjadi salah setu penyebab terjadinya banjir bandang tersebut," katanya.
Perubahan tata ruang yang dimaksud menurut Tommy banyaknya kawasan yang sebelumnya merupakan hutan telah berubah menjadi ladang warga.
Menurutnya, dengan banyaknya alih fungsi lahan di lokasi itu membuat serapan air semakin berkurang dan membuat ketahanan tanah semakin labil.
"Perlu dicermati juga daerah itu merupakan daerah yang rentan dan rawan juga terhadap bencana. Karena lokasi itu banyak lereng yang curam," lanjutnya.
Pengkajian soal lokasi tersebut menurut Tommy telah dilakukan sejak tahun 2007 silam yang harusnya menjadi patokan dan perhatian oleh pemerintah untuk melakukan mitigasi.
"Itu sudah diprediksi sejak tahun 2007 akan menjadi wilayah landaan bencana. Tapi masih dilakukan pembangunan gedung pemerintahan dan kawasan perumahan di lokasi itu," sebutnya.
Selain itu, Tommy menyarankan pemerintah untuk melakukan penelusuran soal banyaknya kayu yang terbawa banjir dan menjadi material bencana.
"Dinas Kehutanan juga harus melakukan penelusuran soal tutupan hutan di sana," katanya.
Artikel ini akan diperbarui secara berkala.






























