Menelusuri benang merah dugaan intimidasi dari tiga anggota DPRD dengan kematian dokter Icha

Foto dokter Icha dalam bingkat dengan nyala lilin di depannya dan karangan bunga bertuliskan beauty life.

Sumber gambar, Eliazar Robert

Keterangan gambar, Kematian dokter Icha telah membetot perhatian publik karena memiliki jejak dugaan intimidasi oleh tiga anggota DPRD Timor Tengah Utara.
    • Penulis, M. Irham
    • Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
    • Penulis, Eliazar Robert
    • Peranan, Kontributor BBC News Indonesia
    • Melaporkan dari, NTT
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 13 menit

Dokter Icha tetap menjalani standar operasional prosedur dan melayani pasien dengan "kasih" meski bercucuran air mata karena tekanan dan intimidasi yang ia terima dari tiga anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), menurut keluarga.

Kepolisian dan Kementerian Kesehatan telah membuka investigasi kasus dokter Icha, yang bernama lengkap Elisa Princilia Utami Pakaenoni, yang ditemukan tak bernyawa karena mengakhiri hidupnya pada Jumat (26/06).

Belum ada pengumuman resmi tentang benang merah antara kematian dokter Icha dengan intimidasi yang ia alami beberapa hari sebelumnya, tapi keluarga meyakini keduanya berhubungan erat.

Keluarga dan kerabat mengenal perempuan 27 tahun itu sebagai sosok yang lembut, murah senyum, dan pekerja keras, selama bertahun-tahun ia bekerja sebagai dokter.

Sebelum meninggal, ia sempat mendapat perawatan intensif karena kesehatan mental. Kepada keluarga, ia terus mengulang cerita kejadian yang ia alami saat mendapat tekanan sejumlah anggota DPRD saat bekerja.

Ketiga anggota DPRD TTU yang diduga melakukan intimidasi terhadap dokter Icha telah menjalani pemeriksaan kepolisian. Salah satunya mengakui "nada bicara memang sempat meninggi" saat bicara dengan dokter Icha, tapi membantah melakukan intimidasi.

Kematian dokter Icha menunjukkan fenomena gunung es kasus-kasus intimidasi dan kekerasan terhadap tenaga medis dan kesehatan yang selama ini tidak terungkap ke publik. Seorang dokter subspesialis menyoroti lemahnya sistem perlindungan bagi tenaga medis dan kesehatan, dan mendorong aturan lebih rinci.

BBC News Indonesia telah memperoleh izin dari keluarga untuk menampilkan profil dokter Icha dalam rangka "peringatan" agar semua pihak menghargai dan menghormati profesi tenaga medis dan kesehatan.

"Tidak boleh ada lagi tekanan-tekanan dan intimidasi terhadap tenaga kesehatan, sehingga peristiwa yang dialami oleh dokter Icha ini tidak boleh terjadi lagi," kata Viktor Manbait, perwakilan keluarga.

Kami mengumpulkan keterangan keluarga, dokter spesialis yang menjadi konsultan dokter Icha dan pemberitaan media partner untuk membangun kronologi kasus ini.

Berawal dari pasien gigitan ular 13 Juni

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Rumah Sakit Umum Leona di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), kedatangan pasien terpagut ular sekitar pukul 17.00 WITA. Pasien ini punya hubungan keluarga dengan anggota DPRD TTU dari Partai Golkar, Therensius Lazakar.

Sebelum dirujuk ke RSU Leona, pasien sempat dirawat di RSUD Kefamenanu selama lima jam dengan penanganan infus dan paracetamol.

Dokter Icha yang sedang bertugas di IGD RSU Leona menangani pasien tersebut.

Menurut keterangan keluarga, selama berjam-jam, dokter Icha bekerja di bawah tekanan Therensius Lazakar, serta dua anggota DPRD TTU lainnya, Nobertus Tubani dari PKB dan Veronika Lake dari PDIP.

Di tempat yang jauh terpisah, tekanan ini dapat dirasakan dokter Tri Maharani yang menjadi konsultan dokter Icha dalam penanganan pasien gigitan ular. Tri Maharani adalah dokter ahli gigitan ular berbisa satu-satunya di Indonesia yang menjadi konsultan rujukan nasional dalam menangani kasus seperti ini.

Tri Maharani adalah dokter ahli gigitan bisa ular satu-satunya di Indonesia. Ia kerap menjadi konsultan rujukan dokter secara nasional saat penanganan kasus terpagut ular. Dokter Icha sempat berkomunikasi dengan dokter Tri Maharani di situasi krusial.

Sumber gambar, Petrus Riski

Keterangan gambar, Tri Maharani adalah dokter ahli gigitan bisa ular satu-satunya di Indonesia. Ia kerap menjadi konsultan rujukan dokter secara nasional saat penanganan kasus terpagut ular. Dokter Icha sempat berkomunikasi dengan dokter Tri Maharani di situasi krusial.

Dokter Icha berkomunikasi intensif dengan Tri Maharani saat dirinya berada pada situasi "traumatik dan ketakutan" di IGD RSU Leona.

Sekitar pukul 17.50 WIB, tiga panggilan tak terjawab dari dokter Icha muncul di layar ponsel dokter Tri Maharani. Saat itu, ia sedang dalam perjalanan menuju Malang, Jawa Timur, untuk menghadiri wisuda keponakannya.

"Aku bilang, maaf ya dokter Icha, WA saja. Tapi dia telepon lagi dalam kondisi panik. Terus dia bilang, 'oke'. Di jalan sinyalnya jelek," kata dokter Maha—sapaan Tri Maharani.

Dalam komunikasinya, dokter Icha mengaku "sedang dimarah-marahi dan dibentak-bentak oleh keluarga pasien dan [anggota] DPR". Dokter Icha mendapat tekanan agar pasien tersebut segera diberi serum antibisa.

Sebuah karangan bunga kedukaan atas meninggalnya dokter Icha di pemakaman.

Sumber gambar, Eliazar Robert

Keterangan gambar, Sebuah karangan bunga kedukaan atas meninggalnya dokter Icha di pemakaman.

Sebelumnya, dokter Icha telah memberikan rekam medis pasien, hasil pemeriksaan laboratorium, foto lokasi gigitan ular dan lainnya kepada dokter Maha. Dari hasil tersebut, keduanya mengidentifikasi pasien hanya mengalami fase gejala lokal. Artinya, nyeri dan bengkak hanya berada pada lokasi gigitan.

Kata dokter Maha, serum antibisa ular hanya boleh diberikan pada fase gejala sistemik—bisa ular menjalar ke organ tubuh lain dengan gejala mimisan, gangguan pembekuan darah, kelumpuhan, sesak napas atau penurunan kesadaran.

"Kalau diberikan itu [antibisa] bisa syok anafilaktik," kata dokter Maha merujuk pada istilah reaksi alergi berat dan mendadak, dan dapat mengancam jiwa pasien akibat paparan zat pemicu (alergen).

Keluarga dokter Icha saat prosesi kedukaan.

Sumber gambar, Eliazar Robert

Keterangan gambar, Keluarga dokter Icha saat prosesi kedukaan.

Sejauh ini tidak diketahui apakah pasien tersebut digigit ular berbisa tinggi atau bukan karena tidak ada foto ularnya. Dokter hanya mendapat informasi pasien digigit "ular hijau", sehingga dalam diagnosisnya ditulis "unidentified snake".

"Kita bisa mengambil kesimpulan itu [pada pasien dokter Icha] kondisi yang tidak membutuhkan antibisa ular, karena fase lokal dengan diagnosis non-venomos," tegas dokter Maha.

Bagaimanapun, dokter Icha terus mendapat tekanan dari tiga anggota DPRD agar pasien diberikan antibisa. Dokter Maha kemudian meminta agar dirinya tetap tenang dan menjelaskan situasi dan kondisi pasien kepada pihak keluarga.

"Aku bilang gitu sudah, Dok. Tapi mereka tetep ngeyel, ngotot. Aku dibentak-bentak, bahkan aku ditanyain nama lengkap. Takut, Dok," kata dokter Maha menirukan percakapan dengan dokter Icha yang terdengar setengah putus asa.

Pukul 18.40 WIB, keduanya bercakap lagi "hampir setengah jam". Dokter Maha berusaha untuk menenangkan dokter Icha.

"Jam 21.30 WIB, dia WA lagi. 'Dokter, terima kasih ya. Maaf ya, tadi aku panik. Soalnya aku dibentak-bentak dan dimarah-marahi. Orang-orang itu minta antibisa ular karena mereka bilang pasen ini butuh antibisa ular. Padahal kan enggak butuh'," kata dokter Maha menirukan percakapan dengan dokter Icha.

"Terus aku bilang, oke Dok, enggak apa-apa... Yang penting pasiennya selamat".

Dokter spesialis yang sangat langka, sekaligus pendiri Indonesia Toxinology Society (ITS) ini, menegaskan, dokter Icha menjalani prosedur penanganan pasien gigitan ular dengan benar.

"Dia mengikuti [SOP] semuanya," katanya.

Pada 15 Juni, pasien tersebut dinyatakan pulih dan bisa pulang ke rumah. Tapi dokter Icha mengalami perubahan sikap menjadi lebih pendiam dan wajahnya selalu menunjukkan rasa cemas dan ketakutan.

Apa yang terjadi pada dokter Icha saat menjalani penanganan pasien?

Selama penanganan pasien gigitan ular di IGD RSU Leona, dokter Icha diduga menerima intimidasi selama berjam-jam. Wajahnya ditunjuk-tunjuk. Dibentak "dengan nada yang tidak kita harapkan". Diancam.

"Sudah itu, menyatakan diri dia adalah anggota DPRD yang membidangi komisi III, yang membidangi dinas kesehatan, bahkan dia bisa membekukan setiap praktik yang dilakukan oleh para dokter," kata Gabriel Pakaenoni, ayah dokter Icha di rumah duka, Senin (29/06).

Selain itu, salah satu anggota DPRD yang terlibat dalam ketegangan ini mengancam akan "memanggil wartawan".

Gabriel Pakaenoni (tengah), ayah dokter Icha bersama kedua putrinya dalam prosesi pemakaman dokter Icha. Ia mengatakan, keluarga selalu diceritakan berulang-ulang oleh dokter Icha tentang kejadian dugaan intimidasi.

Sumber gambar, Eliazar Robert

Keterangan gambar, Gabriel Pakaenoni (tengah), ayah dokter Icha bersama kedua putrinya dalam prosesi pemakaman dokter Icha. Ia mengatakan, keluarga selalu diceritakan berulang-ulang oleh dokter Icha tentang kejadian dugaan intimidasi.

Bagaimanapun, dalam kondisi tertekan, dokter Icha tetap teguh menjalankan SOP dan melayani pasien dengan "kasih sayang".

"Saat itu dia ditunjuk, dibentak dengan suara keras dengan segala macam, tetapi dia tetap melayani dengan cucuran air mata. Dia masih tetap melayani pasien," kata Gabriel dengan mata berkaca-kaca.

Nur Azizah, istri Gabrel sekaligus ibu dari dokter Icha ikut menimpali.

"Saya memuji dia. Kamu luar biasa. Kamu ditekan, dipaksa dalam emosi yang tidak stabil, tapi standar tetap kamu terapkan. Itulah luar biasanya dia," kata Nur Azizah.

Bagaimanapun, tragedi penanganan pasien gigitan ular ini begitu membuat luka mendalam di batin dokter Icha. Cerita ini terus disampaikan dalam tiap kesempatan berkomunikasi dengan keluarga.

"Itu diceritakan berulang-ulang," kata Gabriel.

Menjalani perawatan 'depresi berat'

Sehari setelah insiden pasien gigitan ular, dokter Icha didiagnosa mengalami "depresi berat". Menurut keterangan keluarga, ia sempat dirawat di IGD RSU Leona pada 14 Juni dan malamnya sempat pulang.

Tapi kondisinya makin buruk.

Dokter Icha menjalani rawat inap Senin pagi (15/06) sampai Minggu (21/06). Hari-hari menjalani perawatan kesehatan mental, dokter Icha terus berkomunikasi dengan pihak keluarga yang berada di Kabupaten Kupang—yang berjarak 210 kilometer dari rumah di TTU.

TTU merupakan tanah kelahiran ayahnya. Ia tinggal sendiri dan bekerja di sana sebagai tenaga medis sebagai bentuk pengabdian pada kampung halaman.

Nur Azizah, ibu dari dokter Icha saat menatap putri sulungnya terakhir kali dalam prosesi pemakaman. Ia sempat memuji putrinya itu karena tetap menjalankan tugas sesuai SOP meski di bawah tekanan dan intimidasi.

Sumber gambar, Eliazar Robert

Keterangan gambar, Nur Azizah, ibu dari dokter Icha saat menatap putri sulungnya terakhir kali dalam prosesi pemakaman. Ia sempat memuji putrinya itu karena tetap menjalankan tugas sesuai SOP meski di bawah tekanan dan intimidasi.

Pada 23 Juni, dokter Icha kembali ke Kupang. Berkumpul lagi bersama keluarga besarnya.

Salah satu ceritanya yang masuk ke telinga keluarga, dokter Icha takut bekerja kembali karena khawatir dibilang sebagai "dokter bodoh".

Gabriel Pakaenoni sudah punya rencana melaporkan kejadian yang menimpa putri sulungnya ke kepolisian pada Senin (29/01).

Langkah ini dikuatkan dengan niat putrinya itu yang menyatakan, "Bapak-bapak, dua kali menyatakan... Saya sudah siap untuk bertempur untuk menegakkan keadilan dan kebenaran".

"Namun, sayang, yang kejadian seperti ini," kata Gabriel.

Rencana itu urung. Dokter Icha ditemukan tak bernyawa pada Jumat (26/06) karena mengakhiri hidupnya sendiri.

Karangan bunga untuk dokter Icha

Sumber gambar, Eliazar Robert

Bagaimanapun, kepergian putrinya tak mematahkan langkah Gabriel dan keluarganya mencari keadilan.

"Kami sudah melakukan beberapa langkah. Yang pertama, kami sudah melaporkan ke dewan kehormatan DPRD. Nanti diproses secara politik di sana. Sudah itu juga, kami menyampaikan ke dinas kesehatan, dan juga kepada IDI (Ikatan Dokter Indonesia)," kata Gabriel termasuk membuat laporan pada bupati TTU.

Siapa dokter Icha?

Dokter Elisa Princilia Utami Pakaenoni lahir di Cirebon, Jawa Barat pada 21 juli 1998. Anak sulung pasangan Gabriel-Nur Azizah dari tiga bersaudara ini menamatkan sarjana kedokteran di Universitas Nusa Cendana pada 2020 dengan gelar sarjana kedokteran.

Profesinya berhasil diselesaikan pada 2022.

Setelah itu, ia mengabdi menjadi tenaga medis di sejumlah puskesmas di TTU selama dua tahun, sekaligus mendapat izin praktik di RSU Leona.

Tiara Maharani Dwi Pakaenoni adik dari dokter Icha berdiri di sisi pusara kakaknya saat mengenakan toga dalam perayaan wisuda sarjana kedokteran.

Sumber gambar, Eliazar Robert

Keterangan gambar, Tiara Maharani Dwi Pakaenoni adik dari dokter Icha bersama keluarganya berdiri di sisi pusara kakaknya saat mengenakan toga dalam perayaan wisuda sarjana kedokteran.

"Dia sangat lembut, sangat baik hati, dia tidak pernah kasar dengan orang," kenang Tiara Maharani Dwi Pakaenoni, adik dokter Icha.

Sehari setelah pemakaman kakaknya, Tiara wisuda sarjana kedokteran. Tapi perayaan ini terjadi tanpa ucapan dan pelukan dari sang kakak.

Selain itu, Icha juga dikenal sebagai dokter pekerja keras yang menjalani profesinya dengan hati.

"Anak itu sudah kami didik dalam keluarga, tegas dan keras, bahkan melaksanakan tugas itu tidak hanya optimal, tapi harus maksimal. Tetapi, tidak boleh kasar. Melayani dengan kasih, melayani dengan cinta, dan melayani dengan kasih sayang," kata Gabriel.

Apa kata tiga anggota DPRD yang menekan dokter Icha?

"Kami akui dalam situasi itu nada bicara memang sempat meninggi karena panik melihat kondisi pasien... tidak ada niat untuk mengintimidasi dokter ataupun tenaga kesehatan," kata Therensius Lazakar seperti dikutip Kompas, Minggu (21/06).

Bantahan juga dilontarkan Norbertus Tubani. Ia mengklaim situasi langsung mencair setelah Dokter Nur, Direktris RSU Leona, memberi penjelasan medis, bahwa darah pasien tidak terkontaminasi bisa ular.

"Pasien sudah membaik setelah tiga hari dirawat... Sebelum pulang, kami juga menyampaikan permohonan maaf kepada Direktris RSU Leona, dr. Icha, serta tenaga medis yang berada di IGD," kata Norbertus.

Tiara Maharani Dwi Pakaenoni sedang berdoa.

Sumber gambar, Eliazar Robert

Keterangan gambar, Tiara Maharani Dwi Pakaenoni sedang berdoa.

Sementara itu, Veronika Lake mengklaim kehadirannya di rumah sakit pada 13 Juni lalu karena diajak dua rekannya: Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani.

Ketika masuk ke ruangan IGD, ia melihat "perdebatan" telah berlangsung antara dua rekannya dan dokter. Veronika mengakui ia menyela untuk "memanggil wartawan saja".

Namun, ia berdalih agar usulan ini ada "liputan eksternal dan investigatif terkait transparansi pelayanan kesehatan, evaluasi dan perbaikan kualitas pelayanan Kesehatan".

Investigasi

Ketiga anggota DPRD TTU ini telah menjalani pemeriksaan di Polres TTU pada Senin (29/06).

Sementara itu, Polda NTT berencana membentuk tim khusus menyelidiki dua lokasi kejadian: IGD RSU Leona, lokasi terjadinya dugaan intimidasi, dan Kabupaten Kupang, tempat dokter Icha meninggal.

Kepada media, Wakil Direktur Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak Polda NTT, AKBP Samuel S. Simbolon mengatakan penyelidikan akan fokus pada dugaan intimidasi yang dialami korban dengan keputusan korban mengakhiri hidup.

Sejauh ini, belum ada penetapan tersangka.

Dirjen Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK), Kemenkes, Yuli Farianti saat memberikan keterangan kepada pers, Senin (29/06).

Sumber gambar, Eliazar Robert

Keterangan gambar, Dirjen Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK), Kemenkes, Yuli Farianti saat memberikan keterangan kepada pers, Senin (29/06).

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan juga membuka investigasi.

"Sikap dari kami pertama adalah kami harus melakukan investigasi dulu mendalam posisi kasusnya seperti apa," kata Dirjen Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK), Kemenkes, Yuli Farianti, Senin (29/06).

Yuli yang ikut memberi sambutan saat pemakaman jenazah dokter Icha, mengatakan dari hasil investigasi tersebut, pihaknya baru akan mengambil langkah selanjutnya.

Dia berjanji akan menyampaikan ke media setelah investigasi mendapatkan hasilnya. "Jadi tunggu saja," katanya tanpa memberi target waktu.

'Intimidasi itu nyata'

Dokter Ronald Melviano hadir di acara pemakaman dokter Icha, Senin (29/06) sebagai perwakilan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kupang yang memberi dukungan kepada kepada keluarga dan tenaga kesehatan lainnya.

Spesialis anastesiologi dan terapi intensif ini menilai kematian dokter Icha sebagai fenomena gunung es dari kasus intimidasi dan kekerasan terhadap tenaga medis dan kesehatan.

"Dari cerita-cerita anggota yang lain, mereka rata-rata mendapat intimidasi. Bukan hanya dari anggota DPR. Bisa jadi pejabat, atau petinggi, atau dengan strata sosial, atau yang lebih tinggi, yang punya pengaruh. Jadi intimidasi itu nyata," kata dokter Ronald.

Dokter Ronald Melviano perwakilan IDI di Kupang mengatakan kasus dugaan intimidasi terhadap dokter Icha hanya fenomena gunung es. IDI berjanji akan mengawal kasus ini.

Sumber gambar, Eliazar Robert

Keterangan gambar, Dokter Ronald Melviano perwakilan IDI di Kupang mengatakan kasus dugaan intimidasi terhadap dokter Icha hanya fenomena gunung es. IDI berjanji akan mengawal kasus ini.

Dia bilang, IDI akan mengawal proses investigasi kasus kematian dokter Icha.

"Harapan kami, proses ini dapat berjalan dengan transparan, netral, tanpa ada tekanan-tekanan dari manapun, sehingga keluarga dari dokter Icha, juga bisa mendapat keadilan yang pantas," tandasnya.

IDI menyerukan tenaga medis dan kesehatan di wilayah NTT, menggunakan pita hitam di lengan kanan beberapa hari ke depan. Ini menjadi simbol penghormatan kepada dokter Icha "sebagai pahlawan dan seorang pejuang kesehatan".

Garis

Pengalaman dokter dipukul tentara

Saat mendengar kematian dokter Icha, ingatan dokter Tri Maharani tenggelam pada peristiwa 1998.

Saat itu, ia baru lulus pendidikan kedokteran dan diberi tugas jaga di UGD salah satu rumah sakit di Jawa Timur.

Saat bekerja di UGD, seorang pasien meninggal. Pihak keluarga tak terima dan "menyalahkan kita". Padahal, kata dia, saat itu timnya sudah menjalani SOP.

"Aku masih umur 27 tahun... Aku sempat dipukul dan perawatku ditendang," katanya.

Pelakunya anggota TNI aktif.

"Manajemen rumah sakitku cukup bagus. Aku disuruh libur dulu, menenangkan diri, jadi enggak stress. Kemudian dia [RS] memproses, dan membuat surat ke kantor TNI," katanya.

Surat laporan ini pun ditindaklanjuti institusi TNI. Mereka kemudian menjatuhi sanksi anggota yang memukul dan menendang tenaga kesehatan itu dengan memberi hukuman "lari mengitari rumah sakit 50 kali".

"Jadi kita ini ketawa-ketawa gitu kan. Kita jadi, Woi! Kapok. Kamu sudah nendang perawatku, mukul aku. Sekarang dihukum tuh," kata dokter Maha mengenang kejadian itu.

Sekarang ia menyadari, hukuman tersebut sebenarnya "tidak sebanding". Semestinya, pelaku dijatuhi hukuman pidana.

"Tapi kalau zaman dulu ya, kita cukup puas melihat dia terengah-engah. Lari keliling rumah sakit. Kita sudah puas," kata dokter Maha.

Dari pengalaman ini, dokter Maha menyadari pentingnya dukungan lingkungan kepada tenaga medis dan kesehatan yang rentan terhadap intimidasi dan kekerasan.

garis

Aturan perlindungan lebih rinci diperlukan

Dokter Tri Maharani beberapa kali mengadakan webinar dan mengundang ratusan tenaga medis dan kesehatan. Banyak dari mereka berbagi pengalaman mendapat kekerasan dan intimidasi saat menjalani tugas.

Menurutnya, sejauh ini belum ada aturan yang benar-benar memberi perlindungan bagi tenaga medis dan kesehatan, sehingga kekerasan dan intimidasi selalu menjadi cerita berulang.

Diakui, Undang Undang No.17/2023 tentang Kesehatan terdapat klausul tentang perlindungan terhadap tenaga medis dan kesehatan. Tapi, kata dokter Maha, itu tidak cukup.

"Tidak secara real (nyata) memberi sanksi kepada orang yang melakukan perundungan (verbal), kekerasan," katanya.

Lilin di pemakaman dokter Icha

Sumber gambar, Eliazar Robert

Keterangan gambar, Lilin di pemakaman dokter Icha.

Ia mendorong pemerintah segera membuat aturan turunan berupa peraturan menteri kesehatan agar kasus yang dialami dokter Icha tidak kembali berulang. "Jadi memang dibutuhkan," jelasnya.

Saat dikonfirmasi soal ini, Kepala biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menjawab singkat.

"Nanti kami sampaikan tanggapan secara resmi setelah ada hasil investigasinya," katanya.

Gabriel Pakaenoni (kanan) bersama putrinya Tiara mengatakan pihak keluarga berjuang bukan semata untuk dokter Icha, tapi keselamatan semua tenaga medis dan kesehatan.

Sumber gambar, Eliazar Robert

Keterangan gambar, Gabriel Pakaenoni (kanan) bersama putrinya Tiara mengatakan pihak keluarga berjuang bukan semata untuk dokter Icha, tapi keselamatan semua tenaga medis dan kesehatan.

Kembali ke masa duka keluarga dokter Icha di Kupang.

Ayahnya, Gabriel Pakaenoni mengatakan perjuangan mencari keadilan ini bukan semata dipersembahkan pada putrinya, tapi tenaga medis dan kesehatan yang lebih luas.

"Berikan rasa aman dan nyaman dalam pelaksaaan tugas pokok dan fungsi dari pada tenaga-tenaga kesehatan. Tidak hanya para dokter, tapi juga para bidan, perawat maupun seluruh tenaga yang melayani di bidang kesehatan, tanpa diintervensi siapapun".

Kronologi singkat kasus dokter Icha

  • 13 Juni

Dokter Icha menangani pasien terpagut ular hijau di IGD RSU Leona. Pasien adalah keponakan dari seorang anggota DPRD TTU.

Dokter Icha diduga mendapat tekanan dan intimidasi tiga anggota DPRD TTU yang hadir di sana untuk menyuntikkan serum antibisa. Tapi ia bersikeras, karena pasien hanya mengalami fase lokal. Serum antibisa justru bisa membahayakan nyawa pasien.

  • 14 Juni

Dokter Icha didiagnonis mengalami depresi berat. Ia sempat pulang ke rumahnya di TTU, tapi harus kembali menjalani perawatan sampai 21 Juni.

  • 15 Juni

Pasien terpagut ular dinyatakan sembuh dan bisa pulang.

  • 23 Juni

Dokter Icha kembali ke Kabupaten Kupang, tempat tinggal keluarga besarnya. Ia bersama keluarga sempat merencanakan melaporkan dugaan intimidasi tiga anggota DPRD ke kepolisian.

  • 26 Juni

Dokter Icha ditemukan meninggal dunia di kamarnya di Kabupaten Kupang.

  • 29 Juni

Pemakaman jenazah Icha dihadiri otoritas kesehatan dan Ikatan Dokter Indonesia.

Tiga anggota DPRD TTU diperiksa Polres setempat. Polisi belum menetapkan tersangka.

Kemenkes menyatakan telah membuka investigasi kematian dokter Icha yang didahului dugaan intimidasi saat menangani pasien terpagut ular.

garis

Jika Anda, sahabat, atau kerabat memiliki kecenderungan bunuh diri, segera hubungi psikolog, psikiater, atau dokter kesehatan jiwa di puskesmas atau rumah sakit terdekat.

Anda dapat mengakses situs Emotional Health For All jika membutuhkan bantuan.

Layanan dari Kementerian Kesehatan dapat Anda hubungi melalui nomor 119 ext 8. Anda juga dapat menghubungi layanan 24 jam BISA Helpline melalui nomor WhatsApp 08113855472.

Saksikan juga
Keterangan video, Kisah satu-satunya dokter ahli gigitan ular berbisa di Indonesia